Jumat, 07 Agustus 2015

Mahasiswa Wirausaha Pemenang Hibah dan Kreatifitas Mahasiswa

Mahasiswa IBI Darmajaya Kembangkan “Kopilani” Kopi Luwak Fermentasi



February 5, 2014

BANDAR LAMPUNG – Mahasiswa Information and Bussines Institute (IBI) Darmajaya terus memupuk dirinya untuk dapat berprestasi tak hanya dibidang akademik tetapi juga bisa menjadi entrepreneur- entrepreneur muda yang berbakat. Produk ‘Kopilani’ menjadi salah satu bukti kreativitas mahasiswa IBI Darmajaya dalam membangun usaha sejak dini di bangku perkuliahan.
Suroyo, salah satu penggagas produk tersebut mengatakan bermula dari salah seorang rekannya yang sedang mengembangkan kopi luwak hasil fermentasi buatan, membuat ia bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa mencoba membuat produk kopi dengan inovasi yang berbeda. Menurutnya Kopilani merupakan terobosan baru dalam menghasilkan kopi luwak tanpa memanfaatkan luwak.
“Prinsip kerja fermentor ini adalah reaksi enzimatis dan fermentasi microbial yang terjadi alami di dalam saluran pencernaan hewan luwak. Kandungan dan rasanya sama persis dengan kopi yang diproses alami dalam perut luwak. Disini kami mendapatkan pendampingan dari incubator bisnis dan teknologi (Inkubitek) Darmajaya untuk masalah manajemen dan pengembangan pasar” jelas Suroyo, Rabu (5/2).
Mahasiswa jurusan manajemen semester lima ini menambahkan, Kopilani memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kopi yang memanfaatkan luwak, antara lain lebih mudah diproduksi dalam skala besar, kualitas produk terkontrol secara baik, harga ekonomis dan tidak merusak kelestarian populasi hewan luwak.
“Selama ini juga masih ada pro dan kontra tentang kehalalan kopi luwak lantaran kopinya bercampur dengan kotoran luwak. Dengan adanya kopi luwak hasil fermentasi buatan, mereka tak perlu meragukan lagi masalah tersebut, karena Kopilani lebih higienis karena tidak menggunakan luwak” katanya.
Dibutuhkan perencanaan yang matang untuk mengembangkan produknya tersebut. Diakui Suroyo, saat ini pihaknya baru tahap pengenalan dan promosi ke konsumen. Produksi skala besar, kemungkin dilakukan setelah adanya kerjasama-kerjsama yang terjalin dengan pihak retailer. Saat ini, pihaknya baru memproduksi kemasan 100 gram dengan harga Rp.45.000 per bungkus.
Masalah menajemen, disebutkan mahasiswa yang juga aktif berorganisasi ini, sepenuhnya dipegang oleh mahasiswa yang dibantu Inkubitek IBI Darmajaya. “Kami berdelapan, terdiri mahasiswa bersama-sama mengembangkan Kopilani. Ada yang berperan sebagai marketing, keuangan, bagian produksi, desain kemasan dan komisaris. Saat ini sudah ada beberapa pusat pembelanjaan dan kafe yang siap memasarkan dan menggunakan produk kita. Mudah-mudahan produk kita bisa diterima lebih luas lagi” harap Suroyo yang juga berencana memproduksi Kopilani Blackcoffe dengan bahan baku 100% kopi Robusta.
Sementara itu, Kepala Lembaga Pengembangan Sumber Daya (LPSD) IBI Darmajaya, Andri Winata, SE., M.Sc, menuturkan Kopilani merupakan produk dari proses pembelajaran bisnis yang melibatkan inkubitek IBI Darmajaya dan mahasiswa. Hal ini sesuai dengan visi Darmajaya untuk menciptakan entrepreneur dari kalangan mahasiswa.
Menurutnya, salah satu program inkubitek adalah melakukan pembinaan, pelatihan dan pendampingan bisnis baik internal maupun eksternal kampus. “Selama ini kami memberikan pendampingan kepada mahasiswa yang ingin terjun di dunia bisnis. Tak hanya mahasiswa, pendampingan juga berlaku bagi masyarakat luar yang ingin mengembangkan usahanya.” ujar Andri.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Pengembangan Sumber Daya IBI Darmajaya, Novita Sari, S. Sos., M.M, memberikan apresiasinya. Dikatakan Novi, IBI Darmajaya tak hanya berupaya mengembangkan mahasiswa dengan prestasi akademik dan non akademik, tetapi juga dibidang entrepreneur.
“Menanamkan jiwa entrepreneur penting dilakukan dalam menumbuhkan potensi mahasiswa dibidang bisnis. Dengan ini diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi yang tak hanya bisa mencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain” harapnya (*)

Artikel Terkait dari Sumber Internet

Kopi Luwak Fermentasi dari Mahasiswa Darmajaya

Kopi Luwak Fermentasi dari Mahasiswa IBI Darmajaya

Mahasiswa Lampung kembangkan kopi luwak fermentasi

Mahasiswa Darmajaya Kembangkan Kopi Luwak Fermentasi

Mahasiswa Kembangkan “Kopilani” Kopi Luwak Fermentasi

Kopi Luwak Fermentasi Dikembangkan di Lampung

Mahasiswa Darmajaya Lampung Menang Hibah Kopertis Rp7,7 Juta

"Kopilani", Kopi Luwak tanpa Luwak

Mahasiswa Lampung Kembangkan Kopi Luwak Tanpa Hewan Luwak

Mahasiswa Lampung Kembangkan Produk Kopi Luwak Fermentasi


BERITA-BERITA TERKAIT YANG DIKUMPULKAN 

DARI SUMBER MEDIA CETAK









































Rabu, 05 Agustus 2015

Tenan Tempat Latihan Berjualan

Mahasiswa IBI Darmajaya Bandar Lampung Minati Ruko di Bambu Kuning Square

Link Sumber Berita
Aji Saktiyanto | Senin, 29 Desember 2014 - 17:03:30 WIB | Dibaca: 353 | Pendidikan
Saibumi.com, Bandar Lampung – Sepekan dibukanya pendaftaran program subsidi 100 ruko hasil kerjasama Bambu Kuning Square dengan Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya, sebanyak 27 mahasiswa telah mendaftarkan diri untuk ambil bagian didalamnya. Tingginya animo mahasiswa tak terlepas dari keinginan mereka untuk belajar dan mendalami dunia wirausaha. Seperti yang diungkapkan Novi Kiki Rizkia, salah satu mahasiswa. Menurutnya kesempatan berwirausaha dengan mendapatkan bersubsidi 100 ruko merupakan peluang yang tidak akan disia-siakannya. Bersama ke-14 temannya, ia berencana membuka usaha kafe yang menyediakan beragam minuman dan cemilan. Jika ini terealisasi, ini akan menjadi pengalaman pertamanya dalam membuka usaha. Kendati demikian, diakui mahasiswa jurusan Akuntansi ini, fokus utama ikut bergabung pada program 100 ruko gratis adalah untuk mendapatkan pengalaman dalam berwirausaha. Baginya ini menjadi bagian proses pembelajaran untuk memulai usaha, disamping untuk memperluas jaringan dan mitra. “Saya menganggap ini sebagai peluang, baik peluang untuk belajar, memulai dan terjun langsung berwirausaha. Dari sini mudah-mudahan saya bisa mendapatkan pengalaman berharga yang nantinya bisa menjadi bekal saya kedepan setelah lulus,” katanya seperti rilis yang dikirimkan ke Saibumi.com. Senada diungkapkan Anas Azwar, mahasiswa lainnya. Menurut Anas kemampuan berwirausaha harus diasah sejak dini, tak hanya teori tetapi juga terjun langsung. Jika selama ini mahasiswa cenderung hanya mendapatkan ilmu teori, kini sudah saatnya praktik langsung. Beruntung, mahasiswa difasilitasi dengan subsidi enam bulan oleh Bambu Kuning Square. “Kesempatan ini menumbuhkan kreativitas kami untuk merancang sebuah usaha yang mungkin tak terpikirkan oleh kami sebelumnya. Ini juga menjadi kesempatan emas bagi mahasiswa yang telah memulai usaha dan ingin mengembangkannya lebih baik lagi. Yang jelas 100 ruko gratis ini tidak boleh kami sia-siakan,” ujar Anas. Dia berharap kerjasama Darmajaya dengan Bambu Kuning Square bisa memberikan impact (Dampak) yang nyata bagi mahasiswa. “Mudah-mudahan semangat berwirausaha tumbuh pada mahasiswa. Mindset mencari kerja yang selama ini tertanam dalam diri kami, bisa berubah untuk menciptakan lapangan pekerjaan,” harapnya. Sementara itu Kepala Inkubator Bisnis Dan Teknologi (Inkubitek) Darmajaya, Niken Paramitasari, SE, mengatakan dari pendaftaran gratis 100 ruko pada pertengahan Desember ini, sebanyak 27 mahasiswa telah mendaftarkan diri. Beragam usaha telah mereka rancang mulai dari kuliner, jasa seperti servis laptop, fashion dan lainnya. “Sampai saat ini kami masih membuka kesempatan kepada mahasiswa yang ingin bergabung. Syaratnya mudah, cukup mengisi formulir pendaftaran yang mencantumkan data diri dan jenis usaha yang akan dijalankan. Mahasiswa tak perlu khawatir, karena selama proses menjalankan usaha kami juga akan melakukan pendamp ingan,” ucap Niken. Untuk mematangkan kemampuan entrepreneur mahasiswa, pihaknya juga telah membentuk komunitas wirausahawan muda Darmajaya. Setidaknya ratusan mahasiswa telah bergabung dalam komunitas yang kegiatannya banyak mengarah pada pelatihan dan diskusi tentang entrepeneurship ini. “Semua upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Darmajaya dalam rangka membentu generasi-generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga mempunyai kemampuan berwirausaha. Menghadapi ASEAN Community skill atau kemampuan entrepreneur sangat dibutuhkan agar kita mampu bersaing di tataran global,” pungkasnya. (*)

BERITA-BERITA YANG BERKAITAN DARI SUMBER MEDIA CETAK



Kunjungan Industri, Pembinaan, Pembimbingan, Mentoring, Penelitian dan Pengabdian Ke Mahasiswa dan UMKM Binaan Inkubitek IBI Darmajaya

Dosen Darmajaya Kunjungi Home Industri

Link Sumber Berita


Kaji Permasalahan Bisnis, Dosen IBI Darmajaya Kunjungi Home Industri



Tanggal 25-02-2014

BANDAR LAMPUNG – Menjadi salah satu rangkaian dalam kegiatan training of trainer (TOT) for Project Youth Economic Partisipant Initiative (YEPI), para dosen informatics and business institute (IBI) Darmajaya bersama para trainer dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) - Centre for Entrepreneurship and SMEs Development (CESMED) mengunjungi sejumlah pelaku home industry di Bandar Lampung, Selasa (25/2).
Beberapa home industry yang dikunjungi diantaranya industri tahu, tempe, dan kerupuk di Kecamatan Kampung Sawah Bandar Lampung. Kunjungan dilanjutkan ke tempat pengolahan ikan lele di Gedong Air dan gurame di Gunung Terang. Selain meninjau langsung proses produksi, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengkaji permasalahan yang dihadapi para pelaku home industry dalam mengembangkan usahanya.
Kepala Lembaga Pengembangan Sumber Daya IBI Darmajaya, Andri Winata, SE., M.S., mengatakan kunjungan industry ini menjadi satu dari rangkaian TOT selain pelatihan-pelatihan bisnis. Dalam kunjungan tersebut, dikatakan Andri, para peserta melihat langsung proses produksi, pengemasan, peralatan yang digunakan serta standarisasi mutu yang diterapkan.
Melalui kunjungan ini diharapkan para dosen dapat menciptakan formula atau konsep bisnis yang dapat diaplikasikan ke para pelaku usaha kecil menengah (UKM). “Dalam kunjungan ini, para peserta akan melihat secara langsung kondisi UKM yang rencananya akan menjadi binaan kita. Mereka mengkaji keadaan dan permasalahan yang dihadapi pelaku UKM, untuk kemudian mencari solusi atas permasalahan tersebut” katanya.
Dia menambahkan, dari beberapa permasalahan yang ditemukan, nantinya para dosen yang dibentuk dalam beberapa kelompok ini dituntut untuk bisa membuat bisnis plan maupun strategi bisnis untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi, baik masalah modal, kontruksi, proses produksi maupun pemasaran.
Terkait permasalahan yang dihadapi para pelaku industri, pihaknya siap melakukan pendampingan. “Jika memang masalahnya modal, nanti akan kita carikan sumber dana yang bisa membantu permodalan mereka. Jika membutuhkan bimbingan atau pendampingan, kami akan menyiapkan tenaga ahli, bahkan praktisi sesuai dengan yang mereka butuhkan.” Ujar Andri.
Sementara itu Deputy Director CESMED, Assoc. Prof. Dr. Aini Aman, menuturkan terjun langsung melihat kondisi para pelaku usaha kecil, diharapkan akan membuka wawasan dosen sebagai calon trainer dalam mengkaji segala permasalahan bisnis yang kerap dihadapi pelaku usaha. Setelah itu, kata dia, para dosen diharapkan dapat menciptakan strategi bisnis untuk kemajuan usaha tersebut.
“Nantinya dosen berperan sebagai trainer yang akan melatih mahasiswa dan masyarakat dalam mengembangkan usaha. Kunjungan ini bisa menjadi studi kasus mereka dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang kerap dihadapi pelaku usaha. Setelah itu para dosen diharapkan bisa menciptakan strategi bisnis yang jitu baik dalam hal produksi, pemasaran maupun permodalan” pungkasnya. (*)

Dosen IBI Darmajaya Bina Home Industri




RABU, 26 FEBRUARI 2014 | 17:37 WIB| 141 KALI DIBACA



BANDARLAMPUNG – Menjadi salah satu rangkaian dalam kegiatan Training of Trainer (ToT) for Project Youth Economic Partisipant Initiative (YEPI), para dosen Informatics and Business Institute (IBI) Darmajaya bersama para trainer dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) - Centre for Entrepreneurship and SMEs Development (CESMED) mengunjungi sejumlah pelaku home industry di Bandarlampung, Selasa (25/2).
Beberapa home industry yang dikunjungi di antaranya industri tahu, tempe, dan kerupuk di Kecamatan Kampung Sawah, Bandarlampung. Kunjungan dilanjutkan ke tempat pengolahan ikan lele di Gedong Air dan gurame di Gunung Terang. Selain meninjau langsung proses produksi, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengkaji permasalahan yang dihadapi para pelaku home industry dalam mengembangkan usahanya.
Kepala Lembaga Pengembangan Sumber Daya IBI Darmajaya, Andri Winata, S.E., M.S., mengatakan kunjungan industri ini menjadi satu dari rangkaian TOT selain pelatihan-pelatihan bisnis. Dalam kunjungan tersebut, dikatakan Andri, para peserta melihat langsung proses produksi, pengemasan, peralatan yang digunakan serta standarisasi mutu yang diterapkan.
Melalui kunjungan ini diharapkan para dosen dapat menciptakan formula atau konsep bisnis yang dapat diaplikasikan ke para pelaku usaha kecil menengah (UKM). ’’Dalam kunjungan ini, para peserta akan melihat secara langsung kondisi UKM yang rencananya menjadi binaan kita. Mereka mengkaji keadaan dan permasalahan yang dihadapi pelaku UKM, untuk kemudian mencari solusi atas permasalahan tersebut,’’ katanya.
Dia menambahkan, dari beberapa permasalahan yang ditemukan, nantinya para dosen yang dibentuk dalam beberapa kelompok ini dituntut untuk bisa membuat bisnis plan maupun strategi bisnis untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi, baik masalah modal, kontruksi, proses produksi, maupun pemasaran.
Terkait permasalahan yang dihadapi para pelaku industri, pihaknya siap melakukan pendampingan. ’’Jika memang masalahnya modal, nanti akan kita carikan sumber dana yang bisa membantu permodalan mereka. Jika membutuhkan bimbingan atau pendampingan, kami akan menyiapkan tenaga ahli, bahkan praktisi sesuai dengan yang mereka butuhkan,’’ ujar Andri.
Sementara itu Deputy Director CESMED, Assoc. Prof. Dr. Aini Aman, menuturkan terjun langsung melihat kondisi para pelaku usaha kecil, diharapkan akan membuka wawasan dosen sebagai calon trainer dalam mengkaji segala permasalahan bisnis yang kerap dihadapi pelaku usaha. Setelah itu, kata dia, para dosen diharapkan dapat menciptakan strategi bisnis untuk kemajuan usaha tersebut.
’’Nantinya dosen berperan sebagai trainer yang akan melatih mahasiswa dan masyarakat dalam mengembangkan usaha. Kunjungan ini bisa menjadi studi kasus mereka dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang kerap dihadapi pelaku usaha. Setelah itu para dosen diharapkan bisa menciptakan strategi bisnis yang jitu baik dalam hal produksi, pemasaran maupun permodalan,’’ pungkasnya. (ced/een)

Artikel Terkait Lainnya

Andri: Para Dosen Diharapkan Bisa Ciptakan Konsep Bisnis

IBI-UKM Malaysia Perkuat Kerja Sama


FOTO-FOTO KEGIATAN KUNJUNGAN KE UMKM BINAAN INKUBITEK DARMAJAYA 

(UMKM TAHU,TEMPE, KERUPUK, IKAN LELE, GURAME, JAMUR TIRAM, KLANTING, KERIPIK NANGKA)
























BERITA-BERITA TERKAIT DARI SUMBER MEDIA CETAK







Komunitas Entrepreneur IBI Darmajaya

KERJASAMA KEWIRAUSAHAAN IBI DARMAJAYA DENGAN UNIVERSITAS LUAR NEGERI

IBI Darmajaya Kirim 2 Orang Dosen Pendamping Mahasiswa Student Mobility Ke Universitas Kebangsaan Malaysia


Student Mobility adalah program pertukaran pelajar/mahasiswa IBI Darmajaya dengan Universitas di luar negeri. Saat ini ada 2 jenis program student mobility di IBI Darmajaya yaitu credit transfer bases dan non-credit transfer bases. Sedangkan Universitas luar negeri yang sudah bekerjasama dengan IBI Darmajaya untuk program ini yaitu UTeM Malaka Malaysia dan UKM Bangi Malaysia
Perkebunan Herbal Nasuha di Pagoh, Johor Malaysia Kebun herbal terluas dan tertua di Asia

Berita Terkait Dari Sumber Media Cetak